
Malaysia mengalami lonjakan skema investasi curang pada tahun 2025, yang menargetkan berbagai kelompok usia dan menggelapkan lebih dari RM1,37 miliar, menurut data dari Kepolisian Kerajaan Malaysia dan JSJK (Jabatan Siasatan Jenayah Komersil, Departemen Investigasi Kejahatan Komersial).
Dari Januari hingga November, tercatat 9.296 korban. Kelompok yang paling terdampak adalah orang dewasa berusia antara 41 dan 60 tahun, dengan 2.088 kasus pada kelompok usia 41–50 tahun dan 1.988 kasus pada kelompok usia 51–60 tahun. Kelompok usia 31–40 tahun menyumbang 1.881 korban. Dewasa muda dan bahkan remaja juga terdampak, dengan 1.290 kasus pada kelompok usia 21–30 tahun dan 265 kasus untuk usia 15–20 tahun. Lansia di atas 60 tahun menyumbang 1.784 korban.
Cara Kerja
JSJK melaporkan bahwa skema ini sering menjanjikan keuntungan tinggi dengan risiko minimal atau nol. Para penipu menggunakan media sosial, platform perpesanan, dan dukungan dari influencer palsu untuk memikat korban. Perusahaan dan platform yang terlibat seringkali tidak terdaftar atau sepenuhnya fiktif.
Para korban mungkin awalnya melihat keuntungan palsu di dasbor internal. Untuk menarik dana, mereka diminta untuk membayar biaya tambahan, pajak, atau peningkatan akun. Setelah pembayaran dilakukan, komunikasi sering kali terhenti, sehingga para korban tidak memiliki jalan keluar.
Dampak Demografis yang Luas
Kasus-kasus menunjukkan bahwa tidak ada kelompok usia atau latar belakang profesional yang kebal. Para penipu menyesuaikan pesan dan narasi investasi untuk setiap target, sehingga skema penipuan menjadi sangat mudah beradaptasi. Sifat penipuan yang bernilai tinggi ini berarti kerugian individu dapat dengan cepat mencapai angka enam atau tujuh digit, melipatgandakan dampaknya pada ribuan korban sebelum terdeteksi.
Pihak berwenang terus mengklasifikasikan skema investasi palsu sebagai salah satu kejahatan keuangan paling merusak di Malaysia. Kewaspadaan publik dan verifikasi platform investasi serta penasihat tetap penting untuk membatasi risiko.