
Kepolisian Delhi telah membongkar jaringan penipuan siber yang tampak kurang seperti operasi kriminal, melainkan lebih seperti panggilan casting Netflix. Terinspirasi oleh serial populer Money Heist, tiga pemuda yang menyebut diri mereka "Profesor", "Amanda", dan "Denver" diduga mendalangi salah satu penipuan perdagangan daring terbesar di India, menipu ratusan investor dan mengalirkan hampir ₹250 crore melalui platform dan kanal mata uang kripto palsu.
Para penyelidik mengatakan kelompok ini beroperasi secara nasional, menciptakan lapisan akun mule, obrolan terenkripsi, dan aplikasi perdagangan palsu yang menjanjikan keuntungan cepat dan "tips pasar eksklusif". Para korban dipancing melalui grup WhatsApp dan Telegram yang meniru komunitas investasi resmi. Setelah terpikat, keuntungan kecil dikreditkan untuk mendapatkan kepercayaan. Namun, ketika jumlah yang lebih besar disetorkan, akun-akun tersebut dibekukan dan investor diminta membayar lebih untuk "membuka" uang mereka.
Operasi ini memiliki semua unsur pencurian digital. Arpit Mishra, 25 tahun, seorang lulusan hukum dari Jaipur, diduga berperan sebagai "Profesor", yang mengelola keuangan sindikat dan berkomunikasi dengan para agen yang berbasis di Tiongkok. Rekannya, Prabhat Vajpayee, 22 tahun, dari Ghaziabad, dan Mohammad Abbas Khan, 24 tahun, dari Imphal, bertindak sebagai operator digital, merekrut investor yang tidak menaruh curiga dan mengatur akun-akun mencurigakan.
Para penyidik menemukan bahwa ketiganya bahkan mengatur obrolan dan nama sandi mereka dengan tema-tema Money Heist. Grup WhatsApp terenkripsi mereka dinamai sesuai episode-episode acara tersebut, dan mereka menggunakan alias dari serial tersebut untuk menyembunyikan identitas asli mereka. "Mereka memperlakukan penipuan seperti permainan berisiko tinggi," kata seorang petugas yang terlibat dalam penyelidikan tersebut.
Kasus ini bermula dari pengaduan Rohit, seorang pegawai pemerintah Delhi yang kehilangan ₹21,77 lakh akibat skema perdagangan palsu. Laporan tunggal itu mendorong polisi untuk mengungkap jaringan rumit yang tersebar di beberapa negara bagian. Dua tersangka ditangkap di Noida dengan 11 ponsel, 17 kartu SIM, dan 32 kartu debit, sementara "Profesor" tersebut kemudian ditangkap di Siliguri, Benggala Barat.
Polisi mengatakan jejak digital geng tersebut menghubungkan mereka dengan sindikat kejahatan siber Tiongkok yang menjalankan penipuan serupa di seluruh Asia. Investigasi kini mencakup beberapa negara bagian dan mencakup peninjauan transfer bank, dompet mata uang kripto, dan kemungkinan koneksi hawala.