
Jepang menghadapi peningkatan pesat dalam kejahatan yang didorong oleh motif keuangan, dengan kerugian terkait penipuan mendekati ¥280 miliar pada akhir tahun 2025, menurut data yang dirilis oleh Badan Kepolisian Nasional.
Lebih dari 38.000 kasus penipuan tercatat selama periode tersebut, tetapi perkembangan yang paling menonjol adalah percepatan kerugian finansial. Kerugian tumbuh lebih cepat daripada volume kasus, menunjukkan pergeseran ke arah target bernilai lebih tinggi, penarikan dana berulang, dan perencanaan transaksi yang lebih disengaja. Pihak berwenang menggambarkan banyak operasi tersebut menyerupai kejahatan keuangan terorganisir daripada penipuan terisolasi.
Penipuan terkait investasi telah menjadi penyumbang terbesar tunggal terhadap total kerugian, melebihi ¥107 miliar. Skema ini sering beroperasi melalui platform media sosial dan saluran pesan pribadi, di mana korban diperkenalkan pada peluang investasi palsu yang melibatkan saham, komoditas, atau aset digital. Dalam banyak kasus, "keuntungan" awal direkayasa untuk membangun kepercayaan sebelum transfer yang jauh lebih besar diminta, sering kali disalurkan melalui rekening luar negeri atau dompet mata uang kripto, sehingga menyulitkan pemulihan.
Penipuan khusus yang terkait dengan taktik penyamaran identitas telah menimbulkan kerugian lebih dari ¥121 miliar. Sebagian besar melibatkan pelaku yang menyamar sebagai petugas polisi atau otoritas keuangan, menekan korban untuk melakukan transfer mendesak dengan dalih investigasi atau perlindungan aset. Skema ini dirancang untuk memaksa likuidasi tabungan secara cepat dan pemindahan dana segera, meminimalkan kemungkinan intervensi.
Infrastruktur yang mendukung kejahatan ini semakin bersifat internasional. Lebih dari 86.000 nomor telepon asing terhubung dengan aktivitas penipuan, yang menggarisbawahi ketergantungan pada operasi panggilan luar negeri dan saluran pembayaran lintas batas. Kontak awal paling sering dilakukan melalui telepon, memungkinkan pelaku untuk langsung memandu korban melalui transfer bank atau pembayaran digital secara real-time.
Bentuk-bentuk penipuan daring lainnya, termasuk skema berbasis percintaan dan pemberitahuan palsu, terus ada tetapi sekarang berfungsi terutama sebagai titik masuk ke dalam operasi penarikan dana yang lebih besar daripada kejahatan yang berdiri sendiri.
Skala dan kecanggihan aktivitas ini menyoroti tantangan yang semakin besar bagi bank, regulator, dan operator platform. Seiring berkembangnya penipuan di Jepang menjadi masalah kejahatan keuangan lintas batas yang didorong oleh modal, risikonya meluas dari korban individu hingga integritas sistem keuangan secara lebih luas.